Makalah Pemerolehan Bahasa Asing Perspektif Psikolinguistik

Makalah Pemerolehan Bahasa Asing Perspektif Psikolinguistik. Berikut ini saya mempunyai makalah yang berjudul “Pemerolehan Bahasa Asing Perspektif Psikolinguistik” semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kalian semua.

PENDAHULUAN

Bahasa merupakan sebuah aspek psikologi, sosial serta budaya. Bahasa bukan merupakan aspek biologis bagi setiap individu. Bahasa merupakan sekumpulan simbol-simbol bunyi yang tersusun, sehingga bahasa mampu dimengerti dan dapat digunakan oleh seseorang untuk berinteraksi. (Emil Badi’ Ya’qub, 1985,13)

Menurut Ali Ahmad Madkur bahwa bahasa adalah sistematika dalam berfikir, ide untuk saling berkomunikasi dan memberikan informasi. Maka budaya berbahasa terletak pada bahasa itu sendiri, asal mula sebuah bahasa, jenis bahasa, pembentukan bahasa serta seni berbahasa. Oleh karena itu seseorang tidak dikatakan modern tanpa memiliki bahasa.

Dalam pemerolehan sebuah bahasa tidak terlepas dari 3 aspek penting antara lain adalah pertama bahwa pemerolehan bahasa dipengaruhi oleh aspek internal yang mana kembali kepada individu masing-masing. kedua bahwa lingkungan (aspek eksternal) juga mempengaruhi terhadap pemerolehan bahasa. Katiga adalah bahwa bahasa secara natural manusia sudah memiliki daya atau kemampuan berbahasa. Sejalan dengan hal tersebut seperti yang dikatakan oleh John C.L Ingram dalam bukunya mengenai neurolinguistik bahwa:

Any language may be viewed from three complementary perspectives: (a) as an internalized body of ‘tacit’ knowledge, (b) as a social constraction or set of conventions shared by a language community or (c) as a natural object ‘out there’ in the external world (the ‘E-language’). I-language (kemampuan gramatikal) atau dikenal dengan sebutan daya bahasa (faculty of language).

Dalam sebuah pidato yang disampaikan oleh Syukur Ghazali dalam Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Pembelajaran Bahasa pada Fakultas Sastra di Universitas Negeri Malang bahwa :

Setidak-tidaknya ada tiga fakta tentang belajar bahasa yang tidak bisa kita tolak kebenarannya, Pertama. semua anak bayi yang dilahirkan normal akan menguasai bahasa yang dipergunakan oleh lingkungannya. Ini terjadi tanpa melihat di mana bayi itu dilahirkan, siapa yang melahirkan, bagaimana ia dilahirkan. Kenyataan ini terjadi secara universal, sehingga hal tersebut menolak anggapan bahwa bahasa adalah warisan sosial. Pemerolehan bahasa ini tumbuh secara bertahap, yaitu mulai dari penguasaan bunyi-bunyi prabahasa, kemudian muncul 'kalimat satu kata' (one word sentence). Selanjutnya muncul 'kalimat dua kata', kalimat sederhana, dan kemudian kalimat-kalimat yang strukturnya lebih kompleks. Menyuk (1988:24) menyatakan bahwa, "Language development takes place in a set of sequence and that this sequence is universal." Anak bayi di seluruh dunia belajar menguasai beberapa aspek bahasa yang lebih sederhana sebelum ia menguasai aspek bahasa yang lebih kompleks. Misalnya, ia belajar mengucapkan bunyi-bunyi vokal terlebih dahulu sebelum ia belajar mengucapkan konsonan, mengucapkan bunyi terlebih dahulu sebelum ia bisa mengucapkan kata-kata, belajar mengucapkan kata seperti papa, mama, kaka, sebelum ia mampu menggunakan rangkaian kata dalam bentuk kalimat-kalimat sederhana seperti Papa datang, mama duduk, atau kakak membaca buku. 

Fakta kedua adalah bahwa waktu yang dipergunakan oleh seorang anak untuk menguasai kaidah bahasa yang sangat kompleks terjadi pada waktu yang relatif singkat dan sangat menakjubkan, karena peristiwa belajar bahasa itu seakan-akan dialami oleh anak tanpa kesulitan apa pun. Fenomena belajar bahasa ini bersifat semesta tanpa ada pihak-pihak tertentu yang secara khusus memberikan pelajaran kepadanya Dengan pernyataan filosofis, Boswel (1993:9) menyatakan bahwa peristiwa belajar bahasa pertama yang dialami seorang anak adalah conditio sine qua non yang terjadi pada saat anak tumbuh secara alamiah. Karenanya, peristiwa yang menjadi tanda tanya besar di kalangan filosof, ilmuwan, dan para orang tua ini mudah disikapi sebagai hal yang biasa. Banyak orang menganggap bahwa kemampuan berbahasa itu sebagai kehendak alam yang seharusnya memang demikian tanpa ada seorang pun yang dapat mencegahnya. Hal yang menakjubkan ini oleh Menyuk (1988:25) diungkapkan seperti berikut,"... a great deal of knowledge about language is acquired over a fairly short period of time."

Bahasa dapat dilihat dari berbagai perspektif salah satunya perspektif  psikolinguistik. Psikolinguistik adalah suatu studi mengenai penggunaan bahasa dan perolehan bahasa oleh manusia.  Levelt membagi Psikolinguistik ke dalam tiga bidang utama yang mana akan menjadi cara untuk melihat bagaimana bahasa itu diperoleh antara lain Psikolinguistik Umum, Psikolinguistik Perkembangan, dan Psikolinguistik Terapan.

Kajian-kajian psikolinguistik berhubungan erat dengan pemerolehan bahasa dari segi struktur bahasa, fungsi bahasa serta proses pemerolehan bahasa. Serta hal yang paling penting adalah bagaimana mengajarkan bahasa asing kepada anak.

STRUKTUR DAN FUNGSI BAHASA

Struktur Bahasa

Struktur bahasa terdiri dari unsur-unsur yang dihubungkan yaitu isi bahasa dan bentuk bahasa. Isi bahasa adalah sesuatu yang menjadi pembicaraan orang atau bahan pembicaraan, begitu pula apa yang kita tangkap dari pembicaraan orang dalam hal ini berkaitan dengan obyek-obyek ataupun kejadian-kejadian. Sedangkan bentuk bahasa adalah berhubungan dengan linguistic seperti kata-kata, kalimat yang berfungsi dalam penggunaan bahasa.

Struktur bahasa menyangkut beberapa bidang yaitu: bidang semantik (mempelajari tentang arti suatu perkataan atau kalimat), bidang sintaksisn (berhubungan dengan tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar proses pembentukan kalimat), bidang morfologi (mempelajari tentang morfem serta bagaimana morfe tersebut dibentuk menjadi kata) dan bidang fonologi (mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa dan termasuk kedalam bagian tatabahasa.

Fungsi Bahasa

     Dalam fungsi bahasa memiliki tiga aspek penting yaitu:

Speech Act

Speech act sebenarnya adalah sebuah gambaran action pada saat seseorang berbicara baik itu dengan maksud meminta, meyakinkan, berjanji, menyuruh dan lainnya.

Proporsional Content

Proporsional content adalah kumpulan sebuah ide-ide yang akan direfleksikan kedalam sebuah pembicaraan atau yang dimaksud dengan speech act di atas.

Thematic Structure

Thematic structure adalah sebuah penilaian tentang keadaan mental pendengar pada saat seseorang berbicara.

Language Acquisition

Acquisition dalam bahasa Indonesia disepadankan dengan pemerolehan yaitu suatu istilah yang digunakan untuk mengkaji proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu anak belajar bahasa ibunya (native language) dan atau bahasa asing (Hof, 2005); (Brown, 2007). Sejalan dengan itu, dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Language_acquisition dikatakan bahwa:

Language acquisition is the process by which humans acquire the capacity to perceive, produce and use words to understand and communicate. This capacity involves the picking up of diverse capacities including syntax, phonetics, and an extensive vocabulary.

Secara sederhana pernyataan di atas dapat diartikan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang dilakukan manusia untuk memperoleh kemampuan untuk menerima, memproduksi dan menggunakan bahasa untuk memahami dan berkomunikasi..

Kemudian Waterson (1970) dalam Chaer (2003); mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses sosial sehingga kajian lebih tepat dilakukan di rumah dalam konteks sosial yang sebenarnya dari pada pengkajian data-data eksperimen, lebih-lebih untuk mengetahui pemerolehan fonologi. Kemudian, Kenworthy (1997) mengatakan bahwa lingkungan juga menjadi faktor penentu tentang pemerolehan bahasa anak. Anak mencoba mempersepsi bunyi yang didengarnya dengan benda-benda dan peristiwa dalam lingkungnya. Sesudah itu mencoba memproduksi pola bunyi tersebut tanpa marfologi dan sintaksis. Dengan demikian, menurut (Waterson, 1976) pemerolehan bahasa anak dimulai dari pemerolehan semantik dan fonologi, baru kemudian pemerolehan sintaksis.

Kembali ke hakikat pemerolehan bahasa anak, (Dardjowidjojo, 2003) dan (Chaer, 2003) kemudian mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang berlangsung di dalam otak seorang ketika masih masa kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Dalam perkembangannya, istilah ini dibedakan dengan pembelajaran yang merupakan padanan dari istilah Bahasa Inggris learning. Pembelajaran dalam pengertian ini diartikan sebagai proses penguasaan bahasa yang dilakukan dalam situasi dan kondisi formal yaitu di kelas, dan diajar secara regular dan teratur oleh guru. Dengan demikian, proses anak menguasai bahasa ibunya disebut pemerolehan atau proses pemerolehan (language acquisition process). Kemudian, Carroll, (2008) menambahkan bahwa proses belajar yang dilakukan umumnya oleh orang dewasa yang belajar secara teratur dan sistematis pada kurun waktu tertentu adalah pembelajaran (learning process) (Kess 1993); (Dardjowidjojo, 2003).

Berkaitan dengan proses pemerolehan, meskipun para ahli yang menggeluti bahasa dan proses pemerolehan bahasa memiliki landasan filosofis yang berbeda-beda, tetapi secara umum mereka berpandangan bahwa anak di manapun mereka berada dalam memperoleh bahasa ibunya menggunakan strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh faktor bilogis dan neurologi manusia yang sama tetapi juga dibekali dengan bekal alamiah dan kodrati pada saat dilahirkan (Hoff, 2005);(Dardjowidjojo, 2003). Ini menunjukkan bahwa pada anak ada konsep universal secara mental. Comsky dalam (Clark and Clark, 1977) mengibaratkan anak sebagai entitas yang seluruh tubuhnya telah dipasang tombol dan kabel listrik. Alat itu kemudian disebut Language Acquisiition Devices (LAD). LAD dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ”Piranti Pemerolehan Bahasa” (PPB). Jadi bahasa dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input dari sekitarnya dan tidak selalu tergantung pada ibunya.

Konsep pemerolehan bahasa yang lain adalah konsep hipotesis ‟tabularasa.‟ Tabularasa secara leksikal berarti ‟kertas kosong‟ dalam arti belum ‟ditulis‟ apa-apa. Konsep pemerolahan bahasa ini sebenarnya didasari oleh John Locke, tokoh empirisme yang sangat terkenal yang kemudian disebarluaskan oleh John Watson, seorang behaviorisme psikologi. Konsep ini pada dasarnya menjelaskan bahwa anak (otak) pada waktu dilahirkan seperti kertas kosong, yang nantinya akan ditulis atau diisi dengan pengalaman-pengalaman dalam hidupnya. Ini berarti proses pemerolehan bahasa lebih cenderung dipengaruhi oleh input yang berasal dari luar.

Perbedaan-perbedaan pendapat yang menyolok sehubungan dengan mekanisme perolehan bahasa pada anak-anak, merupakan suatu mekanisme yang memungkinkan terjadinya proses pada anak untuk mengembangkan keterampilan bahasa. Dalam teori linguistik yang kontemporer mengenai problem bahasa, menurut paham rasionalis mereka menggunakan Transformational Generative Grammar (TGT).

Menurut Chomsky seorang anak bukanlah suatu tabula rasa, melainkan telah mempunyai faculty of language (faculty maksudnya adalah kemampuan untuk berkembang atau untuk belajar). Faculty ini adalah khas manusia sedangkan binatang tidak mempunyai faculty tersebut.

Pemerolehan bahasa ke asing/kedua (foreign/second language acquisition-SLA) pada prinsipnya tidak terlalu berbeda dengan pemerolehan bahasa pertama (first language acquisition-FLA). Misalnya pemerolehan bahasa pertama dan kedua/asing dari perspektif waktu dilakukan ketika pemeroleh bahasa masih pada usia anak-anak atau usia dini. Pemerolehan bahasa pertama biasanya ditujukan pada pemerolehan bahasa ibu yang umunya dilakukan oleh anak-anak sedangkan pemerolehan bahasa kedua dilakukan oleh anak-anak dan juga orang dewasa sebagai bahasa  tambahan.

Kemudian, Brown (2007) pada prinsipnya mengatakan bahwa pemerolehan bahasa kedua/asing pada dasarnya menyangkut prinsip-prinsip umum pembelajaran bahasa dan kecerdasan manusia. Dalam pembelajaran bahasa kedua/asing, peranan bahasa pertama tidak dapat dilepaskan. Ini artinya bahwa dalam proses pemerolehan bahasa kedua/asing, siswa harus sudah memiliki kompetensi bahasa pertama di mana bahasa pertama menjadi benchmarking dan sumber informasi awal dalam belajar/pemerolehan bahasa kedua tersebut. Dengan demikian, bahasa kedua/asing merupakan kompetensi tambahan yang diperoleh oleh siswa.

Sejalan dengan hakikat pemerolehan bahasa kedua, disebutkan bahwa:

Second language acquisition or second language learning is the process by which people learn a second language in addition to their native language(s). "Second language acquisition" refers to what the learner does; it does not refer to what the teacher does.

Kutipan di atas dapat diartikan bahwa pemerolehan bahasa kedua adalah suatu proses dimana orang belajar bahasa kedua sebagai tambahan dari bahasa pertama/asli mereka. Pemerolehan bahasa kedua juga berarti atau merujuk pada apa yang pembelajar lakukan dan bukan merujuk pada apa yang guru lakukan. Ini berarti bahwa dalam proses pemerolehan bahasa kedua adalah suatu proses apa yang pembelajar lakukan dan kerjakan menjadi hakikat utama dalam proses pemerolehan tersebut dan bukan dari suatu desain instruksional yang dirancang dan dilakukan oleh guru. Pemerolehan bahasa kedua lebih menitik beratkan pada aktivitas yang cenderung alamiah-realistik yang dilakukan oleh pembelajar dan bukan merupakan suatu produk dari proses belajar mengajar yang dilakukan guru. Merujuk kepada langkah-langkah pemerolehan bahasa asing/kedua bagi anak usia dini.

Haynes mengatakan bahwa paling tidak ada lima tahapan umum dan utama dalam proses pemerolehan bahasa kedua. Kelima tahapan tersebut memiliki karakeristik dan tujuan serta esensi yang berbeda dalam konteks kuantitas dan kualitas pemerolehan bahasa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Aronoff, Mark dan Miller R.Janie. eds. The Handbook of Linguistics. Oxford: Blackwell Publisher. 2001.

Brown, Dean James. The Elements of Language Curriculum: A Systematic Approach to Program Development. Boston: Heinle & Heinle Publishers.1995.

Brown.H. Douglas. 2007. The Principles of Language Teaching and Learning. New York: Pearson Education, Inc.

Chomsky, Noam. 1975, Reflections and Language. New York: Pantheon Books.

Dardjowidjojo, Soejono. Echa: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Grasindo. 2000.

Ingram John C. L., Neurolinguistics An Introduction to Spoken language Processing and its Disorders. New York: Cambridge University Press. 2007.

Mar’at Samsunuwiyati, Psikolinguistik Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama. 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar